Jennifer Jangan Berbohong!!

Setiap pulang sekolah biasanya aku dijemput papi atau mamiku. Aku biasa menunggu di ruang tunggu siswa bersama teman-temanku yang sedang menunggu jemputan juga. Biasanya aku paling lambat dijemput, sehingga aku masih bias memperhatikan teman-temanku yang lain bermain. Ya…, sesekali aku juga ikut bermain dengan mereka, walaupun lebih banyak kuhabiskan waktuku untuk membaca buku atau mengerjakan tugas sekolah.

Tadi siang kebetulan tinggal aku dan Jennifer yang tersisa. Ku perhatikan wajahnya sedih dan binggung. Aku jarang berbicara dengannya, Jennifer agak tertutup dan pemalu, sehingga Akupun binggung untukmemulai bicara dengannya. Tetapi ketika melihat wajahnya itu, aku tergerak untuk berbicara dengannya. Mungkin saja aku bias membantunya.

“Jen, kamu kenapa?” Tanyaku hati-hati.

Wajah Jennifer perlahan terangkat, aku melihat ada danau air mata dimata sipitnya. Bibirnya gemetar menahan tangis.

“Kamu sakit? Sudah telpon mamamu? Aku telponkan ya?”

Jennifer hanya menggelengkan kepalanya dan dia tetap membisu sambil menatapku.

“Trus kamu kenapa dong? Gimana aku bias Bantu kamu kalo kamu nggak bicara tapi nangis?” tanyaku binggung.

Jennifer mengusap air matanya,ia menatapku dalam-dalam dan ia mulai bicara dengan suaranya yang serak.

“Aku binggung, nilai ulangan formatifku kali ini turun drastis. Aku takut mama marah dan aku di pukul. Aku ingin membuang hasilnya,tapi tetap aja nantinya mamaku tahu, kau ada laporan hasil formatif tiap awal bulan.” Kata Jennifer.

“Memangnya kamu nggak belajar?”

“Aku belajar, tapi sewaktu ulangan formatif,aku banyak ikut sepupuku yang kebetulan dating dan bermail di mall. Mama sudah memperingatkan aku, tapi aku cuek aja, toh aku piker sudah pernah membaca materinya. Ternyata dugaanku meleset, banyak materi baru yang keluar dan tidak bias menjawabnya. Jadi sekarang nilaiku jelek-jelek. Aku binggung! Kalau kamu enak, biar nggak belajar mati-matian, nilaimu selalu bagus. Mamaku selalu membandungkanku dengan kamu!” kata Jennifer.

Aku menatap wajah Jennifer. Bendungan air matanya sudah pecah, bulir-bulir air matanya mulai turun. Waduh, aku juga jadi binggung, nanti orang kira aku yang membuatnya menangis.

“jen, menurutku,kamu harus bicara terus terang pada mamamu lalu minta maaf dan tidak mengulanginya lagi. Kalaupun kamu di marah atau di hokum, ya terima aja sebagai konskwensi dari perbuatan kamu. Lain kali, kamu harus belajar lebih giat, supaya kamu nggak binggung kalau ada ulangan lagi. Atau kalau kamu mau, kita bias belajar sama-sama,kan rumah kita nggak jauh.

Lagi pula, kamu kan pernah dengan cerita sekolah minggu kita, kalo kita tuh nggak boleh bohong, dosa! Lagian,kita kan harus menghormati orang tua kita supaya lanjut umur kita! Iya kan? Maaf ya Jen,bukannya aku menggurui kamu, tapi menurut aku yang terbaik sih kamu harus jujur dan minta maaf.” Kataku.

Jennifer masih menatap wajahku. Kali in8i air matanya sudah tidak mengalir, hanya mulutnya sedikit terbuka. Mungkin dia heran mendengar kata-kataku yang sok tua. Aku jadi binggung,jangan-jangan aku salah bicara.

Dan klakson mobil papiku mengejutkan kami.

“Jen,aku pulang duluan ya! Atau kamu mau pulang bareng aku?”tanyaku.

“Thank,s deh,aku tunggu jemputan aja!” katanya.

Dan aku pun meninggalkan Jennifer.

Sore harinya Jennifer menelponku. Dia bersemangat sekali bercerita. Katanya, dia sudah berbicara jujur pada mamanya. Hasilnya, mama Jen tidak marah apa lagi memukulinya dan dia berjanji akan belajar lebih giat. Jen juga ingin belajar bersamaku.

Aku senang mendengar kata-katanya. Tapi yang terpenting bagiku, Jenniofer tidak berbohong pada orang tuanya!

(Cerita Pendek ini merupakan Hasil Karya AnakSekolah Minggu Kelas Tunas Remaja = GIOVANNY)

Tinggalkan Balasan