Sekolah Minggu (Tidak) Penting?

Jika pertanyaan berikut ini disampaikan kepada orang dewasa yang kristen, apa kira-kira jawaban mereka. Pertanyaannya adalah “Apakah sekolah minggu perlu atau penting?”, lalu apa jawabannya? Mungkin jawabannya semacam ini: “Oh sangat perlu”, “Ya, anak-anak harus diajar sejak kecil untuk mengenal Tuhan.” “Sekolah minggu harus diadakan.” Jadi pada dasarnya mereka menganggap sekolah minggu adalah perlu dan bahkan penting.

Tetapi, apakah sikap yang memandang penting pelayanan anak itu terwujud dalam kenyataannya? Dari pengamatan terhadap beberapa gereja diketahui bahwa pada tataran praktik ternyata keadaannya tidak seperti yang diungkapkan dengan kata-kata. Berikut ini adalah beberapa hal yang masih dapat – kalau tidak sangat sering – dijumpai di gereja-gereja berkaitan dengan pelayanan sekolah minggu ( SM) .

  1. SM diadakan agar anak-anak tidak mengganggu kebaktian orang dewasa

Sikap seperti ini mungkin muncul dari praanggapan bahwa anak-anak tidak atau belum bisa berbakti. Sikap semacam ini mempunyai implikasi de facto bahwa kebaktian SM tidak penting. Dalam kata lain, kebaktian orang dewasa begitu teramat sangat penting, sehingga gangguan dari pihak anak-anak sedikit pun tidak diizinkan. Mereka dipisahkan dari kebaktian orang dewasa bukan dengan maksud agar anak-anak dapat berbakti dengan lebih baik kepada Tuhan, tetapi agar kebaktian orang dewasa tidak terganggu sama sekali. Apabila tempat kebaktian SM dekat dengan tempat kebaktian orang dewasa, anak-anak tidak diizinkan untuk memuji Tuhan dengan suara keras ( yang menunjukkan rasa bebas memuji Tuhan) di SM, karena akan mengganggu kebaktian orang dewasa. Apakah pernah terpikir bahwa puji-pujian dari kebaktian orang dewasa yang begitu keras bisa mengganggu anak-anak belajar Firman Tuhan?

  1. Fasilitas untuk SM tidak memadai

Sering terlihat ruangan untuk SM sempit dan tidak memadai. Ada gereja yang mengadakan kebaktian SM di bawah pohon. Ada pula kebaktian SM diadakan di tempat parkir di basement sebuah hotel, sedangkan kebaktiaan untuk orang dewasa diadakan di salah satu ruangan hotel.

Jarang ada alat musik untuk anak-anak SM, sedangkan pada kebaktian orang dewasa alat musik serta sistem suaranya sangat baik dan lengkap. Bukankah ini salah satu bentuk diskriminasi? Dalam ucapan dikatakan bahwa kebaktian untuk anak SM penting, tetapi pada kenyataannya yang menjadi pusat adalah orang dewasa dan pelayanan SM dinomorduakan.

  1. Pengajar SM kurang kompeten

Banyak orang tidak mau mengajar di SM dan karena itu gereja sering menghadapi kurangnya guru SM, padahal anggota jemaat banyak sekali. Dari antara mereka yang memiliki beban besar untuk pelayanan anak, banyak pula yang pengetahuan dan keterampilannya kurang memadai.

Sering ditemui banyak guru SM yang mengajar tanpa persiapan dan banyak pula yang mengajarkan hal yang tidak tepat — jika tidak dikatakan sangat salah. Pernah ada guru SM yang menyampaikan kisah berikut di kelas kecil. Guru itu berkata: “Suatu hari Budi diminta ibu untuk membeli sesuatu. Budi ternyata memakai uang itu untuk jajan, dan ketika ditanya oleh ibunya ia menjawab bahwa uangnya hilang. Pada malam hari, Budi bermimpi dikejar-kejar oleh setan. Pada pagi harinya ketika bangun ia ketakutan lalu ia meminta maaf kepada ibunya.” Apa yang ingin dicapai melalui cerita ini, apakah guru itu akan mengajarkan bahwa setan bisa juga membuat orang bertobat? Sejak kapan setan bisa membuat orang bertobat?

Ada juga guru SM yang mengajarkan bahwa persembahan Kain tidak diterima oleh Allah karena sayur dan buah-buahan di dalam persembahan Kain busuk semua. Di bagian yang mana dari Alkitab yang mengajarkan hal ini, lagi pula konsep apa yang ingin disampaikan oleh guru ini? Persembahan Kain tidak diterima karena ia tidak melakukan persembahan dari binatang. Persembahan dengan pencurahan darah binatang ini menyatakan konsep bahwa “Tidak ada penebusan tanpa curahan darah.” Persembahan dari binatang ini merupakan simbol dari persembahan agung Yesus Kristus kelak.

Senada dengan kesalahan ini adalah cerita guru lain lagi yang menyatakan bahwa Daniel tidak dimakan oleh singa di gua karena singanya ompong. Pengajaran yang salah ini mengaburkan dan mengecilkan arti perintah Tuhan dan juga penyertaan Tuhan.

Memang adalah suatu hal yang sangat baik apabila seseorang memiliki beban yang besar untuk pelayanan, apalagi pelayanan anak-anak. Akan tetapi para guru harus diperlengkapi atau memperlengkapi diri dengan keterampilan atau pengetahuan agar dapat lebih baik lagi menyampaikan berita sukacita kepada anak-anak. Gereja seharusnya membina para calon guru SM untuk menghindarkan pengajaran yang salah yang dapat menyesatkan anak-anak.

Masih banyak hal yang sebetulnya menunjukkan bahwa anak-anak memang tidak begitu diperhatikan. Pelayanan SM biasanya diberi prioritas yang paling akhir dari antara pelayanan-pelayanan yang lain Inti permasalahannya sebetulnya terletak pada cara memandang anak-anak yang kurang tepat. Banyak orang dewasa — dalam hal ini para pengajar SM, gembala sidang, majelis gereja, dll — yang memandang anak-anak belum bisa apa-apa: belum bisa mengerti FT, belum bisa memuji Tuhan. Cara pandang seperti ini memanifestasi pada sikap atau kondisi guru SM yang mengajar tanpa persiapan, tidak dipikirkannya fasilitas untuk pelayanan SM, tidak pernah dipikirkan camp/retret khusus untuk anak-anak, penyampaian cerita yang tidak membawa kepada pengenalan akan Tuhan atau kepada kesadaran akan perlunya juru selamat, dsb.

Cara pandang seperti ini perlu diubah, karena masa anak-anak merupakan masa yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Apa yang diberikan atau dialami oleh anak-anak dalam masa kanak-kanak bisa mempunyai efek yang sangat serius untuk anak itu sebagai individu kelak. Amsal 22:6 menyatakan: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

Banyak orangtua yang mengusahakan pendidikan formal sebaik mungkin untuk anak-anak: mereka dimasukkan ke dalam sekolah yang baik atau favorit, dibelikan buku pelajaran yang lengkap, dll., akan tetapi apakah sikap yang memandang penting pendidikan seperti ini juga diterapkan dalam hal rohani? Perlu diingat, sebagaimana anak-anak itu kelak memimpin bangsa, mereka juga adalah masa depan gereja. Di tangan merekalah kepemimpinan gereja di masa yang akan datang.

Pendeta Gonbei menyatakan bahwa menomorsekiankan pelayanan anak SM mungkin timbul karena gereja memegang konsep praktis yang umum dipegang oleh kalangan di luar gereja yaitu tidak membiarkan adanya pemborosan dan kerugian.

  1. Tidak membiarkan adanya pemborosan

Secara sadar atau tidak, banyak gereja beranggapan bahwa mengeluarkan uang untuk pelayanan SM adalah merupakan pemborosan. Mengeluarkan uang banyak untuk menyediakan alat musik, ruang kelas yang cukup baik, dan juga yang lain untuk SM adalah pemborosan. Mengeluarkan uang banyak untuk menyelenggarakan retret untuk anak-anak adalah pemborosan. Sikap yang tidak mengizinkan adanya “pemborosan” ini pun kita temukan pada Markus 14:4, yaitu ketika seorang perempuan mencurahkan minyak narwastu ke kepala Yesus. Waktu itu ada orang yang gusar dan berkata: “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?” Jelaslah di sini terlihat segi ekonomi bisa mengalahkan urusan yang mempunyai dampak kekekalan, karena kita tidak menyadari bahwa “pemborosan” yang semacam ini dikehendaki oleh Allah. “Pemborosan” yang ini perlu dilakukan untuk membawa anak-anak itu mengenal dan menerima Kristus sebagai juru selamatnya yang pribadi.

  1. Terlalu perhitungan

Sikap terlalu perhitungan juga sering menghinggapi gereja. Segala sesuatu terlalu didasarkan pada prinsip untung dan rugi. Berdasarkan prinsip ini jelas pelayanan SM adalah pelayanan yang merugi dilihat dari segi ekonomi. Berapa banyak uang persembahan anak-anak SM? Sudah pasti jumlahnya tidak cukup untuk dapat menyewa ruangan yang baik atau untuk membeli gitar atau untuk membiayai hamba Tuhan. Karena persembahan anak-anak ini kontribusinya sangat kecil untuk gereja, maka apakah dapat disalahkan jika gereja menyediakan fasilitas sesuai dengan kontribusinya? Tentu tidak salah jika acuannya adalah berapa banyak keuntungan yang dapat diberikan oleh anak-anak melalui pelayanan SM. Tetapi memang beginikah seharusnya kita mengelola pelayanan ini?

Sikap seperti ini memang sering mewarnai gereja yang ditebus oleh Tuhan Yesus. Jika tidak memberikan kontribusi yang layak, maka tidak perlulah terlalu diperhatikan. Semua tindakan harus dilakukan berdasarkan perhitungan untung-rugi. Bagaimana seandainya Yesus juga melakukan analisis untung-rugi ( cost-benefit analysis) sebelum Ia mau disalibkan, apakah kita akan diselamatkan?

Dalam kehidupan sehari-hari yaitu urusan sekolah biasa, orangtua mau mengeluarkan banyak uang untuk membeli buku, membayar guru privat, membeli komputer, dll. Apakah dalam hal ini orangtua menggunakan perhitungan untung-rugi secara murni? Tentu tidak. Mereka melihat masa depan yang akan dijalani oleh anak-anak itu. Mereka harus diberi bekal agar dapat menghidupi dirinya dan keluarganya kelak. Bukankah pelayanan untuk anak-anak juga harus dipandang begitu juga. Anak-anak harus dipersiapkan untuk menerima Yesus Kristus yang sangat mempengaruhi masa-masa setelah kehidupannya di dunia ini berakhir. Berapa lamanya kehidupan setelah kematian itu bila dibandingkan dengan kehidupan di dunia ini? Untuk kehidupan di dunia yang rentang waktunya tidak panjang seseorang mau berkorban banyak, bukankah seharusnya pula kita mau berkorban untuk kehidupan yang kekal?

Cara pandang yang meremehkan anak-anak atau pelayanan anak-anak ini perlu diubah. Jika tidak, gereja akan kehilangan berkat Tuhan. Sikap semacam kemunafikan yaitu lain di mulut lain di hati atau lain di tindakan harus segera dihentikan. Tuhan tidak menyukai sikap seperti ini ada dalam gereja-Nya.

Pelayanan SM memiliki nilai yang strategis dan karena itu perlu dilakukan. Lebih lanjut Pdt.Gonbei menyatakan beberapa hal penting yang tercakup di dalam pelayanan SM adalah program penginjilan, pertumbuhan dan penyerahan diri.

  1. Program untuk Penginjilan

Kegiatan SM jelas berkaitan dengan program penginjilan. Sebagaimana halnya orang dewasa, anak-anak juga membutuhkan juru selamat. Oleh karena itu pelayanan SM perlu dilakukan dengan serius karena berkaitan dengan keselamatan jiwa manusia — ingat, anak-anak juga seorang manusia yang utuh walaupun belum dewasa. Berkaitan dengan itu maka cara pelaksanaan SM harus diusahakan agar anak-anak ini bisa mendengar FT dengan baik yang mengarahkan mereka kepada keyakinan bahwa mereka adalah orang berdosa yang membutuhkan juru selamat, dan juru selamat itu adalah Yesus Kristus. Pengajaran di SM yang hanya berkisar kepada masalah moral saja tidak akan membawa anak-anak menyadari perlunya juruselamat.

Selain itu, anak-anak bisa menjadi pemberita Injil kepada orang-orang yang ada di dalam keluarganya. Apa yang didengar oleh anak-anak di sekolah minggu bisa diceritakannya kembali kepada orangtua, nenek-kakek, saudara-saudaranya di rumah. Dengan cara seperti ini, orangtua yang tidak pernah ke gereja atau yang tidak pernah mendengar berita tentang Yesus dapat mendengarnya dari mulut anak-anak ini.

Acara-acara lain yang dilakukan oleh gereja berkaitan dengan program sekolah minggu dapat pula menjadi arena penyampaian berita sukacita. Gereja Baptis Airin di Sapporo mempunyai program operet tiap tahun. Setiap kali waktu pementasan tiba, acara ini bisa dihadiri oleh ribuan orang dewasa yang kebanyakan adalah orangtua atau keluarga anak-anak sekolah minggu. Sebagian besar dari yang hadir adalah orang-orang yang bukan Kristen.

  1. Program untuk Pertumbuhan

Program ini adalah untuk membantu anak-anak bertumbuh secara rohani. Seperti pada segi fisik/jasmani, pertumbuhan rohani anak-anak biasanya juga lebih cepat daripada orang dewasa. Mereka bisa dilatih untuk memiliki kebiasaan membaca FT, berdoa dan memuji Tuhan. Anak-anak yang sudah besar bisa diminta untuk membaca Alkitab sendiri di SM, dan mereka juga bisa diminta membantu melakukan sesuatu untuk anak-anak yang lebih kecil atau tugas lain — dengan kata lain, menjadikan mereka mitra pelayanan guru-guru SM.

  1. Program Penyerahan Diri

Banyak orang yang tidak percaya bahwa anak-anak bisa juga menyerahkan diri untuk melayani Tuhan. Di Gereja Airin, Sapporo, Jepang yang memperkenalkan metode pelayanan MEBIG — singkatan dari MEMORY, BIBLE, GAME — anak-anak bisa menjadi pemimpin puji-pujian atau MC di dalam kebaktian. Mereka bisa melakukan pelayanan membagi traktat dan juga membersihkan gereja. Di gereja ini selalu diadakan retreat untuk anak-anak dan dari acara ini lahir jiwa-jiwa yang mempunyai keyakinan untuk menjadi pendeta atau penginjil setelah mereka menjadi besar.

Pelayanan sekolah minggu adalah suatu pelayanan yang sangat penting untuk dilaksanakan, karena pelayanan ini akan menjadi dasar bagi perkembangan hidup kerohanian seorang anak yang kelak menjadi dewasa. Pelayanan yang dilaksanakan dengan baik akan menghasilkan sumberdaya bagi gereja. Pelayanan yang dilaksanakan dengan baik akan menyediakan calon-calon pemimpin untuk pertumbuhan dan penyelenggaraan gereja.

Sumber : Sudi Ariyanto MEBIG INDONESIA

2 Tanggapan ke “Sekolah Minggu (Tidak) Penting?”

  1. Terimakasih untuk artikel yang sangat membantu, memang dalam kenyataan byk sekali pelayanan anak yang mengalami stagnasi karena terbentur dengan sdm, biaya, sarana dan prasarana.
    Diperlukan dukungan dari semua pihak dalam memajukan pelayanan anak di gereja-gereja.
    Kenerhasilan anak ditentukan dari orang tua, keberhasilan gereja anak ditentukan pelayan anaknya.

Tinggalkan Balasan