JANGAN JADI GURU SEKOLAH MINGGU
Dipublikasi Artikel blog by Purnomo
Mungkin Anda ingin menjadi guru Sekolah Minggu (selanjutnya disingkat GSM) karena ada orang yang berkata menjadi seorang GSM hampir sama dengan menjadi seorang pendeta. Perkataan ini bisa memompa semangat Anda melambung ke langit tinggi dan berpikir muluk.
Perkataan orang itu tidak sepenuhnya salah. Tugas seorang GSM memang mirip dengan seorang pendeta. Ia harus menginjili anak-anak yang oleh Tuhan Yesus tidak pernah disepelekan hanya karena mereka adalah anak-anak. Sehingga seorang GSM harus dipersiapkan menguasai Firman yang akan disampaikannya; sehingga ia tidak boleh omong semaunya sendiri di depan anak-anak; sehingga ia harus menjadi teladan bagi anak-anak; sehingga ia harus menanggung sehingga-sehingga yang lain. Ini benar karena memang itu kewajibannya. Tetapi apa hak seorang GSM? Jangan berharap untuk mendapatkan hak yang sama dengan yang diperoleh seorang pendeta. Kok beda? Iyalah. Jadi pendeta sekolahnya mahal, sedangkan jadi GSM sekolahnya gratis.
Jika ada acara pembekalan di mana GSM mendapat bimbingan, itu jangan dianggap hak. Itu kewajiban! Setiap GSM harus hadir dalam acara ini. Di sini ia akan diberitahu bagaimana Firman itu harus disampaikan sesuai dengan umur anak-anak yang ada di kelasnya. Masih lumayan jika hanya cara penyampaian Cerita saja yang diatur. Lagu-lagu yang akan dibawakan juga ditentukan judul-judulnya. Dari mulai doa pembukaan sampai saat doa penutup kebaktian SM. Boleh saja ia tidak hadir dalam acara itu. Tetapi jangan heran bila mendadak kelasnya dihadiri oleh seorang guru senior yang berkata mau membantunya. Padahal, she is a spy in charge!
Bila tidak ada GSM lain yang hadir di kelas Anda, jangan bersenang hati dulu. Karena bisa saja begitu Anda selesai mengajar Anda dipanggil majelis pendamping SM atau BPH KSM untuk dikritik habis-habisan jika cara penyampaian Cerita Anda keliru. Siapa yang lapor? Biasanya sih ortu. Bisa karena anaknya lapor kepadanya, bisa juga karena ortu menguping di luar kelas.
Sebentar, jangan tanya tentang hak Anda dulu. Masih ada kewajiban yang bisa membuat GSM mabuk tanpa minum tuak. Biasanya, keluar dari acara persiapan mengajar GSM diberi oleh-oleh. Yaitu materi aktivitas anak. Fotokopi quiz Alkitab, gambar untuk diwarnai, gambar untuk ditempel, kertas warna untuk melipat. Payahnya materi yang diberikan ini masih berupa barang setengah jadi sehingga harus dikerjakan lebih dahulu di rumah. Misalnya memotong kertas perak menjadi potongan-potongan kecil berbentuk bintang, bulatan atau ikan kecil. Bayangkan saja jika kita punya murid 35 anak dan setiap anak harus menerima 7 potong ikan-ikanan, apa ya mau pacar kita pada malam Minggu selama 2 jam membantu kita bermain gunting? Lebih enak jadi anggota vocal group. Malam Minggu kita bisa ajak dia latihan nyanyi duet dengan gitar.
Mungkin yang masih bisa disebut hak adalah setiap GSM berhak mendapat bantuan uang jalan bila harus mengajar di pos SM yang jauh. Jumlahnya pas untuk naik angkutan kota atau bis kota. Tetapi jangan coba-coba naik taksi, Anda bisa nombok banyak. Tidak usah mengomel kepada Komisi, apalagi minta tambahan uang transport. Sudah ga ditambahi, salah-salah kita akan dituduh tidak berdedikasi atau cari uang dalam persekolahmingguan.
Sekolah Minggu merupakan bagian organisasi Gereja yang menduduki peringkat pertama dalam daftar “unit yang merugi” karena “menghabiskan” uang Gereja tapi tidak “menghasilkan” cukup uang. Maaf kepada para penatua, istilah ini saya pergunakan karena ada Gereja yang bila membahas sebuah rencana pengeluaran selalu mendasari perhitungannya dengan pertanyaan, “Lalu Gereja dapat apa?” “Mengapa harus ber-PI kepada pemulung? Setelah mereka dibaptis, Gereja dapat apa? Malahan biaya diakonia bisa makin tinggi.”
Karena itu banyak GSM yang mematikan kreativitasnya yang bila di-implementasi-kan, membutuhkan uang. Contoh yang paling sederhana adalah memberi kado anak yang berulang tahun. Sering GSM menghadapi dilema dalam hal ini. Ortu yang kaya merayakan ultah anaknya di kelas SM. Anak-anak senang karena ada roti atau permen yang dibagikan. Pada suatu kali seorang anak membisiki gurunya. “Tante, hari ini saya ulang tahun. Kok belum disiapin kuenya?” Berbesar hatilah karena tidak sedikit para penatua yang mengatakan kepada GSM-nya “Syukurilah, Tuhan berkenan memberi kamu kesempatan nombok demi kelebaran Kerajaan Allah di bumi.” Jadi, selamat nombok!
Masih juga belum hilang keinginan Anda untuk menjadi seorang GSM? Baik, saya kisahkan kesengsaraan lain yang bagi orang yang belum pernah menjadi guru SM sering dianggap tidak mungkin terjadi.
Untuk menghindari isyu yang menyakitkan telinga, sekarang ini banyak Gereja yang secara berkala memaparkan cash flownya. Dengan demikian setiap jemaat dapat mengetahui betapa besar dana yang dibelanjakan oleh SM. Karena mereka merasa bahwa itu adalah duitnya juga, tidak peduli ia setiap Minggu hanya memasukkan seribu rupiah di kantong kolekte, dan sekaligus tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu bahwa uang yang dimasukkan ke dalam kantong kolekte sudah bukan lagi miliknya tetapi milik Tuhan, mereka menuntut haknya atas uang itu. Ia menuntut anaknya mendapat kenikmatan di Sekolah Minggu seperti di playgroup. Karena itu, jangan sekali-sekali memarahi anak SM apapun kesalahannya. Orang tuanya akan balas memarahi Anda habis-habisan. Bisa secara langsung, bisa lewat petinggi gereja. Biasanya sih lewat istri pendeta bila ortunya sering mentraktir makan atau belanja Ibunda.
Orang tua anak tidak segan mengomel bila kita sedikit salah dalam mengajar anaknya. Paling dongkol bila mereka memulai omelannya dengan: “Dulu waktu saya jadi guru Sekolah Minggu di sini …….” Syeeeebel buanget deh! Jangan bersuka hati bila selama Anda mengajar tidak ada orang tua yang mengomel karena itu belum berarti Anda aman sentosa. Di beberapa Gereja, Komisi Sekolah Minggu diharuskan menyelenggarakan sebuah acara yang dinamai Pertemuan Orang Tua Murid (POTM) setahun sekali. Nah, di situlah para orang tua murid dikumpulkan. Karena mereka banyak, dan seperti umumnya bila seseorang merasa banyak temannya, maka kritik yang dikeluarkan tidak tanggung-tanggung pedasnya seolah-olah kita ini orang gajian mereka. Biasanya GSM selalu mencari alasan untuk menghindari datang di acara ini. “It is a killing field,” kata mereka.
Tetapi ketika di Jakarta saya terpaksa menghadiri ladang pembantaian ini karena saya anggota BPH. Di acara tanya-jawab, seorang bapak bertanya: “Mengapa anak saya walaupun sudah bertahun-tahun ikut Sekolah Minggu belum juga bisa berdoa?”
Seorang GSM yang anggota Seksi Bahan Pelajaran menjelaskan bahwa pelajaran doa secara khusus tidak diberikan, tetapi dalam setiap doa anak-anak dituntun untuk menirukan kalimat-kalimat yang diucapkan oleh gurunya. Lalu pertanyaan yang berikutnya mulai berisi pecahan kaca.
“Jika demikian apakah anak saya harus menunggu sampai dewasa sehingga ia beroleh pelajaran berdoa?” Lalu kuliah gratis tentang ilmu mendidik anak diuraikannya panjang lebar, dan diakhiri dengan sebuah pertanyaan-mercon-banting: “Sebenarnya kapan sih menurut aturan Sekolah Minggu seorang anak mulai mendapat pelajaran berdoa?”
“Bapak sudah menguraikannya tadi dan tentunya tidak berbeda dengan kami,” jawab Ketua BPH bijak sehingga membuat bapak itu tersenyum puas. Senyumnya merangsang nafsu saya berkanibal sehingga tanpa permisi saya berkata,
“Sepengetahuan saya manusia tanpa mendapat pendidikan formal telah memiliki naluri mendidik anaknya sejak anak itu masih dalam kandungan ibunya. Sudahlah umum melihat calon ibu berkata-kata kepada calon anaknya sambil menepuk-nepuk perutnya. Bahkan ada ibu yang membacakan dongeng untuk calon anaknya itu sebelum tidur malam atau mendekatkan perutnya ke loudspeaker agar calon anaknya bisa menikmati lagu-lagu klasik. Dengan cara yang sama seorang anak bisa diajar berdoa sejak ia masih berada dalam kandungan ibunya. Tentunya orang lain sulit dan tidak sopan menggantikan tugas ibu mengajarnya berdoa, kecuali ia adalah bapaknya. Apakah Bapak ingin kami guru SM membantu bapak?”
Seorang GSM memang berkerja sebagai hamba. Tetapi janganlah dianiaya terus-menerus. Biar hamba, tetapi bukan sembarang hamba. Hamba Tuhan! Ajudan presiden jangan disamakan dengan ajudan lurah. Nah, kalau seorang GSM, apalagi pendeta, sudah berpidato seperti ini, semua pasti bingung. Ini hamba macam apa kok tidak melayani, tapi malah minta dilayani.
Untungnya tidak ada yang marah karena perkataan saya tadi. Bagaimana mau marah, perkataan itu saya ucapkan dalam hati saja kok. Ya, itulah repotnya bila atribut GSM sudah menempel pada diri saya. GSM itu harus sopan tidak urakan; harus senyum tidak cekakakan; harus dianiaya tidak menganiaya; tidak dolan ke diskotik nanti ketemu ortu muridnya. Makanya di kota-kota besar GSM malas memakai baju seragam, biarpun diberi gratis. Seperti pendeta yang protes keras atas usulan penempelan identitas gereja di mobil dinasnya karena nanti tak bisa dipakai anaknya racing di malam Minggu. Itulah susahnya bila nama kita sudah diberi label nomor inventaris Kerajaan Allah di antara anak-anak.
Memang benar menjadi seorang GSM hampir sama dengan menjadi seorang pendeta. Hampir, karena kewajibannya sama sedangkan haknya berbeda. Jadi, setiap GSM harus siap berkorban. Anda boleh menepuk dada mengatakan siap berkorban waktu, pikiran dan uang (uang Anda sendiri tentunya) demi segala sesuatu yang berlabelkan misi penginjilan. Saya percaya Anda siap. Tetapi, plis pikirkan satu dua hari lagi pertanyaan ini.
Apakah Anda juga siap untuk mengorbankan harga diri Anda, berlutut di depan orang-orang yang tidak menyenangi Anda untuk membasuh kakinya? Apakah Anda siap melakukan pekerjaan seorang budak seperti itu? Siap tersenyum ketika dikritik habis-habisan? Tetap setia datang mengajar anak-anak yang tidak pernah luntur kekurangajarannya karena orang tuanya memiliki “saham” di Gereja? Tetap bersikap ramah kepada bapak-ibu majelis walaupun mereka tidak pernah menghargai keberadaan Anda di Sekolah Minggu? Tetap lembut bertutur kata kepada sesama GSM sementara hati Anda sudah berantakan tercabik-cabik oleh perkataan mereka yang menyepelekan usaha Anda?
Siapkah Anda menerima tuduhan bahwa Anda bersikeras menjadi GSM karena sedang mencari calon pasangan hidup di arena SM; mencari rekomendasi Gereja agar tidak kelamaaan jadi penganggur; mencari simpati para pejabat Gereja agar dapat dicalonkan menjadi seorang penatua?
Banyak Gereja kekurangan tenaga GSM. Ini masalah klasik. Tidak banyak GSM yang tahan mengajar lebih dari 5 tahun. Ini lumrah. Para majelis pendamping SM malas nongol di acara-acara persekolahminggguan. Ini manusiawi. Mengapa semua ini terjadi? Karena pelayanan di SM adalah pelayanan seorang budak yang harus mengorbankan apa saja yang dimilikinya (kecuali iman dan kebenaran Firman) kepada orang-orang yang dilayaninya. Dan sayang sekali tidak semua orang punya kwalifikasi seperti ini.
Bagaimana? Masih berminat jadi budak sebagai seorang GSM? Berani menjadi the lone ranger dalam arena ini? Ah, yang benar aja.
SUMBER : http://www.sabdaspace.org